Sejarah Desa Tembokrejo

  27 Maret 2017  |  DESA TEMBOKREJO

I.  PROSES PENELITIAN :

             Dalam Negara Kertagama maupun Pararaton, wilayah Banyuwangi dikenal dengan nama BLAMBANGAN yang disebut juga Toyarum atau Tirtoarum.

Dan nama Blambangan disebut Barangbrangan ( Jawa Kuno ) artinya tempat penyeberangan barang-barang karena disebelah timur Wilayah Banyuwangi terdapat Selat Bali.

Wilayah Banyuwangi kaya dan sangat potensial akan tinggalan Arkeologis, terutama daerah Desa Tembokrejo sehingga perlu dilakukan penelitian secara Arkeologis, antara lain :

 

  1. Situs tradisi  megalitik berupa  zigurat  ( tanah  tinggi ) yang  bahasajawa di  sebut SITI INGGIL  dan  sampai  saat  sekarang tempat itu lazim  disebut SETINGGIL. Situs   ini   terletak di Dusun Muncar Desa  Tembokrejo  dan  Lingkungan Siti Inggil menjadi pemukiman penduduk yang ramai.  Indikasi  temuan di  Situs  Siti  Inggil berupa  batu  bata dan  batu batu besar menumpuk  menyerupai  bukit  dan  diantaranya   batu    batu    tersebut   terdapat    bekas   telapak  kaki manusia, konon ceritanya adalah telapak kaki Prabu Menak Jinggo.
  2. Situs GUMUK KLINTING       dan  GUMUK MAS  yang  terletak  di Dusun  Palurejo  (Paludem)  juga     merupakan    ziggurat     seperti  Siti  Inggil dan pernah       ditemukan     barang – barang      antik  yang  bentuknya seperti   Gentha atau klinthing yang  terbuat  dari tanah  liat  sehingga tempat itu disebut Gumuk Klinthing.
  3. Situs  GUMUK  JADAH  yang  terletak  di  Dusun  Palurejo,  disini ditemukan beberapa  Ompak  yang   terbuat  dari   batu   berukuran  besar   sebanyak  12  buah yang    menyerupai  Jadah  ( kue yang  terbuat dari beras ketan ) sehingga tempat itu di sebut Gumuk Jadah.
  4. Situs   GUMUK PUTRI   terletak  di   Dusun   Palurejo  berdekatan dengan   Gumuk  Jadah dan  Situs ini pernah  di   temukan   sebuah patung  terbuat  dari  batu seperti putri cantik,  sebuah  fragmen  arca batu pada  masa Hinduistik, dan tempat  itu disebut  Gumuk  Putri.
  5. Situs  OMPAK  SONGO   di  Dusun   Krajan   mempunyai  sejarah  tersendiri.   Tempat      itu      pada  tahun 1928  pernah   di     kunjungi    oleh  Raja Jawa yaitu Sinuwun PAKU BUWONO ke X dari Kasultanan  Surakarta  Hadiningrat dan pada saat itu  tempat  tersebut   belum   memiliki   nama,  dan  dari  hasil penemuan tersebut ditemukan. Ompak  (  bahasa   Jawa  Ondhag - ondhagan )   berjumlah  9  maka dinamakan   Ompak   Songo.   Ompak   Songo   banyak   ditemukan barang - barang  kuna  yang bercorak Hinduistik antara  lain fragmen grabah,   barang   pecah   belah  fragmen   keramik   asing   dan   lainsebagainya.
  6. Proses  penelitian  diluar  Desa   Tembokrejo  juga  ditemukan  Situs Bale Kambang,  situs  tersebut berupa zigurat  dari  gundukan  tanah  yang  tinggi yang  terletak di  Desa Blambangan  tepatnya  disebelah barat Desa Tembokrejo.          

 

Situs  Tembok  yang  tingginya  kurang  lebih 2 meter  dan  Tembok tersebut  oleh  masyarakat  disebut LUNGUR  yang  terletak di Desa Blambangan   dan   Tembokrejo   yaitu   dari  arah   Bale   Kambang  membujur   ke    timur   dengan   perbatasan   Dusun   Sukosari   dan kemudian ke timur disebelah  sungai ( kali ) Mangil terus ke  selatan melalui  Dusun  Muncar  Baru,  kemudian   keselatan  yang   disebut Gumuk   Sepur,  karena    Tembok   atau   Lungur   yang   membujur keselatan menyerupai Sepur ( Kereta Api ).

Dan  Tembok  atau  Lungur  tersebut   berupa  gundukan  tanah,  dan setelah diteliti  didalamnya  terdapat batu bata yang berukuran besar Maka dapat diasumsikan bahwa Tembok tersebut dahulu kala adalah Tembok atau benteng keliling Keraton Blambangan pada masa Pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Disebelah timur Ompak Songo juga pernah ditemukan tanda-tanda Tembok diluar sisi timur yang membujur dari selatan ke utara dan pernah ditemukan fragmen unsur bangunan Gapura atau Pintu Gerbang dari bahan batu kali.

Dengan demikian dapat diasomsikan bahwa Ompak Songo dahulu adalah Pusat Pemerintahan Kerajaan Blambangan. Dan Keraton Blambangan diasomsikan menghadap ke timur, terbukti dengan temuan Gapuro disebelah timur. Jika bekas Keraton Blambangan menghadap ke timur maka dapat diasumsikan bahwa Siti Inggil, Gumuk Klinting, dan Gumuk Mas pada masa lalu berfungsi sebagai tempat Pos Prajurit Blambangan untuk mengintai para pendatang atau musuh yang datang dari arah timur, karena situs-situs tersebut terletak didekat dengan pantai.

Adapun Gumuk Putri terbukti pernah ditemukan sebuah arca yang menyerupai Putri Cantik, adapun arca tersebut pada masa meletusnya pemberontakan G.30.S / PKI tahun 1965 banyak yang di rusak oleh orang orang yang tidak bertanggung jawab. Dan Gumuk Jadah dapat diasomsikan pada masa lalu berdiri sebuah bangunan berbentuk Joglo dengan  tiang  penyangga ( Soko guru ) sebanyak 12 buah karena ditemukan Ompak dari batu yang menyerupai Jadah. Dan tempat itu diperkirakan sebagai tempat peristirahatan para prajurit. 

Kemudian dapat diasomsikan pula tentang Bale Kambang, bahwa pada masa lalu adalah Taman Sari atau Taman Kaputren dan Bale Kambang disebut juga Taman Bale Kambang.

Dari hasil temuan-temuan Situs tersebut diatas adalah Situs-situs yang paling potensial dan tempat bersejarah atas peninggalan Kerajaan Blambangan atau disebut Kedaton Wetan yang sekaligus sebagai CIKAL BAKAL proses terjadinya Desa Tembokrejo.

                                                                            

II.  HASIL PENELITIAN :

             Dari hasil temuan - temuan tersebut diatas pada masa itu adalah pada masa Pemerintahan Kerajaan Majapahit duduk seorang Raja Putri, kalau didalam Sejarah bernama RATU SUHITA adapun  kalau didalam cerita Rakyat RATU KENCONO WUNGU.

RATU SUHITA mempunyai saudara yang bernama BRE TUMAPEL, kalau dalam ceritera rakyat disebut LOGENDER dan berpangkat Patih WARONGKO DALEM. Dan   pada   masa    Pemerintahan   Ratu   SUHITA   ada    beberapa keluarga Raja yang ingin memisahkan dari kekuasaan Majapahit  karena   tidak  puas dengan   kebijakan  Raja, terutama seorang Adipati  Brang  Wetan  yaitu Kerajaan Blambangan  yang  pada masa itu duduk seorang Adipati,  kalau  didalam  sejarah  bernama BRE WIRABUMI, dan  kalau  dalam  ceritera rakyat bernama  ADIPATI  MENAK  JINGGO atau HURU BISMO, yang masa kecilnya bernama JOKO UMBARAN dia adalah anak Adipati Pasuruhan yang bernama BANDARAN SUBALI.

Karena   Majapahit  dan   Blambangan   terjadi   peperangan, konon ceriteranya kemenangan  dipihak Blambangan karena Adipati MENAK JINGGO  memiliki kesaktian  yang  tinggi. Kemudian Ratu SUHITA  mengambil siasat  langkah  kebijaksanaan untuk menumpas Adipati MENAKJINGGO dengan cara mendirikan suatu sayembara pilih tanding. Dan isi sayembara adalah barang  siapa  yang bisa  menaklukkan dan menangkap  Adipati   MENAK  JINGGO   hidup   atau   mati,  kalau perempuan  akan  diangkat menjadi saudara Raja.VNamun apabila  laki-laki  akan  dinobatkan  sebagai Raja  Majapahit  serta  menjadi  suami  Ratu SUHITA.

Al hasil  Ratu SUHITA  mendapatkan  seorang  Senopati  yang masih  muda  dan  tampan,  serta   memiliki   kesaktian  yang   tinggi  yaitu  anak  seorang  Patih   Majapahit  yaitu   Patih  UDORO   yang   bernama   RADEN GAJAH  kalau   dalam  ceritera  rakyat  bernama DAMAR WULAN.

Akhirnya  Blambangan  dapat di tumpas Adipati  MENAK JINGGO  dapat  di bunuh dan di  penggal  kepalanya  dengan  bantuan   kedua   istri selir Adipati MENAK JINGGO yang bernama DYAH  WAITO dan DYAH  PUYENGAN dengan  menggunakan pusakanya Adipati   MENAK JINGGO   sendiri  dan  pusaka  tersebut   bernama  GODO  WESI KUNING dan PEDANG SUKOYONO.

Konon   ceriteranya   pusaka   tersebut   berasal   dari  kedua  tanduk  KERBAU atau KEBO MARCUWET dari Bali. Setelah   Blambangan   runtuh   ibarat   sapu   lidi   tanpa  tali  (suh) tidak mempunyai pemimpin yang melindungi, maka terjadilah urbanisasi dan perpindahan penduduk antara lain pindah ke Bali dan daerah lain di luar wilayah Blambangan untuk mencari penghidupan baru.

Akhirnya Blambangan  lambat laun  menjadi  sepi  karena   perpindahan  penduduk  dan   akhirnya   pula  Blambangan   menjadi hutan lagi. Kejadian peperangan Majapahit  dengan  Blambangan  bukan  hanya   Blambangan  saja  yang   mengalami   kehancuran,  tetapi  Majapahit  juga   mengalami  yang  sama  dan  dalam  sejarah  atas   kehancuran Majapahit digambarkan sebagai : “ SIRNA ILANG KERTANING BUMI  kata-kata  diatas berasal dari  bahasa  Sangsekerta  yang  berarti   tahun  1400,  sedang  dalam tahun  masehi adalah Tahun 1478.

 

III.  KESIMPULAN HASIL PENELITIAN :

Dalam  kurun waktu yang sangat panjang dari  tahun  ke tahun kemudian Bumi Blambangan  di datangi  oleh  banyak  orang  dari luar  Blambangan dengan   tujuan   untuk  hidup  bermasyarakat  dan mengajak  orang-orang  yang  masih   tertinggal di Blambangan untuk membangun sebuah perkampungan  dengan   cara  membabat   hutan  dan   kejadian tersebut sekitar tahun 1922.

Dan  pada  saat   pembabatan  hutan  di   temukan   sebuah Tembok  yang  pada  saat  itu  juga  di  sebut LUNGUR yang  membentang  dari  Bale  Kambang ( sekarang  berada  di desa Blambangan )  membujur ke  timur  dan  keselatan  seperti  uraian  di  atas.                                             

Dan  tempat itu semakin  ramai ( rejo ) karena tambahnya para   pendatang, maka dengan  telah di temukan TEMBOK dan wilayah  semakin  ramai  atau REJO  maka  tempat  itu  di  namakan :

TEMBOKREJOyang berasal dari dua kata TEMBOK dan REJO.

 

Sesuai dengan perkembangan jaman, Tembokrejo menjadi sebuah Desa yang konon wilayahnya meliputi dari  Kumendung membujur ke selatan sampai Sumberberas atau Mberasan  dengan  di  pimpin  oleh  seorang  Tokoh  Masyarakat  ( sesepuh desa )  bernama  SURO SEWU. Dengan   demikian  dapat   diasomsikan  kuat,  bahwa  Desa Tembokrejo berdiri tahun 1922 karena hutan  di  Bumi  Blambangan   dibabat  pada   tahun 1922.

Kepala Desa SURO SEWU dalam memimpin Desa selama   kurang lebih 1 tahun  dan  diganti  oleh  Kepala  Desa  yang  baru   bernama H. DHU, begitu pula Kepala Desa H. DHU mempimpin desa kurang lebih selama 1,5 tahun dan Pusat   Pemerintahannya di Kedungrejo. Kemudian Kepala Desa H. DHU di gantikan oleh Kepala Desa  bernama RAIS dan mempimpin desa kurang lebih selama 1,5 tahun.

Dengan kondisi tanah pertanian yang subur  dan penghasilan  ikan di laut  sangat  banyak,  maka  daerah itu semakin ramai  dan   semakin padat  penduduknya, akhirnya  sesuai  dengan   tuntutan   jaman  dan tuntutan  masyarakat, maka  Desa  Tembokrejo  yang  di  kala  itu  di pecah menjadi 4 Desa yaitu :

     1.  Desa Sumbersewu.

     2.  Desa Tembokrejo.

     3.  Desa Kedungrejo.

     4.  Desa Sumberberas atau Mberasan.

     Setelah Desa Tembokrejo menjadi Desa sendiri, maka  Desa   Tembokrejo memiliki batas – batas  sebagai berikut :

     <  Sebelah utara     :  Desa Sumbersewu.

     <  Sebelah timur     :  Selat Bali.

     <  Sebelah selatan  :  Desa Kedungrejo

     <  Sebelah barat     :  Desa Blambangan dan Desa Bagorejo.

 

Dari hasil keterangan dari para Nara Sumber serta bukti  yang nyata,   tentang beberapa orang Kepala Desa dan Carik ( Sekretaris Desa )  yang   telah   memimpin   Desa  Tembokrejo, antara lain :                                                                                                

                      

No.

NAMA

KEPALA DESA

NAMA

CARIK

( SEKDES )

MENJABAT 

TAHUN

KET

1

Rd. JOYO SUKIRNO

-

1926-1929

 

 

2

SADALI

-

1929-1931

 

 

3

SUJIYO

SUTAHAM

3 BULAN

 

 

4

MARTO SENTONO

alias MARTOKANCIL

SUTAHAM

1931-1940

 

5

SUTAHAM

KASIDI

SUNARDI

1940-1960

1960-1975

 

6

M. NARDI

SUNARDI

SUPRIYADI

1975-1990

1990-1999

 

7

Drs. AGUS SANTOSO

SUPRIYADI

2000-2006

 

 

8

SUMARTO

SUPRIYADI

PURNOMO

2007-2012

2012-Sekarang

 

 

 

Demikian dari hasil penelitian dan kesimpulan, maka dapat diasomsikan bahwa Desa Tembokrejo berdiri sekitar tahun 1922 dan Situs-situs peninggalan Sejarah Blambangan pada masa Pemerintahan Kerajaan Majapahit adalah Cikal Bakal proses terjadinya Desa Tembokrejo, dan semoga bermanfaat bagi genarasi seterusnya agar generasi kita dapat mewarisi, mengenal Budaya bangsanya sendiri yang memiliki nilai budaya yang tinggi.    

            Pepatah Jawa mengatakan :

“ BONGSO INGKANG AGUNG LAN LUHUR, YHO IKU BONGSO INGKANG GELEM NGURI-URI KABUDHAYANE SARTO INGKANG TUHU BHEKTI MARANG GUSTI LAN PORO PINISEPUH “

Demikian apabila terdapat kekurangan dan kesalahan baik penulisan maupun tata bahasa, itu adalah keterbatasan dan kemampuan kami, dan apabila mendekati kebenaran semata mata Anugerah dan petunjuk dari Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

 

Contact Details

  Alamat :   Jl. Untung Suropati No.65
  Email : desa.tembokrejo@gmail.com
  Telp. : 081249612603 (Kepala Desa) / 082319226787 (Op.Desa)
  Instagram :
  Facebook : Tembokrejo Muncar
  Twitter : @desa_tembokrejo


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi